BELAJAR MARKETING STRATEGY DARI TUKANG TAMBAL BAN
Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 16 Desember 2009 sehabis adzan magrib setelah main dari Jogja Expo Center (JEC) dalam perjalanan pulang tiba-tiba DORRRR...!Suara ledakan keras seperti bom mengagetkanku dan pengendara lain yang sedang melintasi perempatan jalan di daerah Yogyakarta (aku ga' hafal nama daerahnya).Secara reflek sepeda motorku yang tadinya melaju agak kencang akhirnya aku perlambat takut kalau ledakan itu berasal dari sepeda motorku. Kulihat beberapa pengendara lain yang kaget juga menoleh ke arahku sembari aku menepi dan terasa pergerakan sepeda motor mulai kurang stabil. Sampai di tepi jalan dalam area aman aku tengok bagian belakang bawah sepeda motorku dan ternyata ban motor sudah kempos/gembez sepenuhnya. Astaghfirulloohal'adzim...
Alhamdulillah ketika ban meledak tidak dalam kecepatan tinggi. Saat itu hati juga nggak tenang bukan hanya karena ban bocor tapi lebih dikarenakan aku belum sholat maghrib. Syukurlah, ternyata aku berada di depan pom bensin. Sudah kuduga pasti di pom bensin ada musholla. Kemudian bergegas menuntun motor ke musholla pom bensin, ambil air wudhu lalu sholat maghrib takut waktu maghrib keburu habis.
Sehabis sholat maghrib dan hati mulai tenang, aku lanjutkan petualangan malam itu mencari pangkalan tukang tambal ban. Setelah bertanya kepada orang tempat tambal ban terdekat dan mulai pencarian, menelusuri jalanan kota jogja di malam hari tapi sudah agak jauh berjalan aku belum menemukan tukang tambal ban di jalan itu. Karena jauh ke depan aku lihat belum tampak tanda-tanda keberadaan tukang tambal ban, aku putuskan menyeberang jalan untuk putar balik. Di seberang jalan aku tanya ke penjual makanan ringan. Sang penjual makanan ringan pun tak hafal tempat tukang tambal ban. Tiba-tiba, dari arah belakang ada yang memanggil.
"Bocor Mas...?"tanya seorang pria. "Nggih, Pak...",jawabku. Lalu pria itu menawarkan jasa tambal ban. Sempat heran, di daerah itu kan nggak ada tambal ban...? mana peralatannya kok mau nambal...?
"Bisa nambal pak?"tanyaku sedikit bingung.
"Ya!" jawab bapak itu sambil menuju sebuah sepeda motor bebek yang ternyata miliknya. Lalu dia membuka kotak yang terpasang di bagian belakang motornya yang ternyata berisi peralatan tambal ban. Di bagian tengah motornya ada pompa angin. Oh..., ternyata! Baru paham aku kalau ternyata pria itu adalah tukang tambal ban keliling.
"Motornya dipinggirin ke sini aja mas!"kata pria itu sambil mengarah di depan sebuah bangunan di pinggir jalan.
Sambil dia melakukan pekerjannya dan aku menunggu sambil menikmati malam di jalanan, dari pada suntuk kita juga banyak ngobrol. Salah satu perbincangan kita selain tentang ban motorku yang sudah sobek parah, adalah tentang profesinya itu. TUKANG TAMBAL BAN KELILING! Sangat unik menurutku karena cara itu belum banyak yang melakukan.
Ketika aku tanya alasannya, jawaban dia entah itu yang sebenarnya atau tidak adalah:
* Dia lebih suka metode jemput bola, hal ini menurutku memang benar juga dan lebih efektif karena sebagian besar pengguna jasa tambal ban datang dalam keadaan ban telah bocor atau bisa diartikan tukang ban yang menetap hanya menunggu mangsa yang belum tentu datangnya (srategi buaya). Tapi, dengan cara jemput bola ini sang tukang tambal ban lah yang aktif mencari target (strategi harimau). Orang kebanyakan datang ke tukang tambal ban kan kalau pas butuh doank, dan pasti mencari yang terdekat dari pada capek-capek menuntun kendaraan ke tukang tambal idaman.he..he..he...kayak aku nech. Dengan keliling mencari korban ban bocor maka paling tidak kan ada usaha, logikanya pendapatan lebih pasti dari pada sekedar menunggu dan lebih memudahkan para pengguna jalan yang mengalami bocor di jalanan. Oh... ya, aku kok lupa ya nggak minta nomor hp-nya, siapa tahu kalau bocor di daerah itu lagi bisa tinggal telpon.
* Menunggu itu menjenuhkan. Pastinya..., aku pun begitu paling males kalau menunggu.
* Dapat banyak kenalan. Karena dia sering berpindah-pindah tempat mangkal, maka sudah pasti kenalannya makin banyak. Banyak teman banyak rejeki.
Ban dalam telah selesai ditambal, tinggal dipasang. Tapi masalah lainnya adalah, ban luar sobek terlalu lebar bahkan hingga dua jari bisa dimasukkan sekaligus. Kemungkinan untuk bisa bertahan sampai rumah sangat kecil. Delapan puluh kilometer dengan ban sobek rasanya tak mungkin bertahan. Mau cari ban pengganti, uang nggak cukup belum lagi buat beli bensin (lagi bokek). Akhirnya ditempuh jalan nekat ban yang sobek dibalut dengan ban dalam sekuat-kuatnya. Berharap bisa sampai rumah walaupun pelan-pelan. ha..ha..ha.... Baru kali ini kayaknya ada ban kok diperban. Cara aneh dan nggak mutu banget dech. Tapi terpaksa, tukang tambal bannya juga nggak bisa ngasih solusi lain.
Nah... ini nih, salah satu kekurangan tamban ban keliling adalah kelengkapan persediaan bahan. Kalau di tempat tambal ban yang menetap pasti ada ban bekas yang paling tidak bisa dipakai sementara, bahkan terkadang ada yang lengkap dan menyediakan ban baru. Ya maklum lah karena tukang tambal ban keliling hanya membawa bahan dan peralatan yang seperlunya agar memudahkan dalam penataan di kendaraan serta dalam mobilitasnya.
Singkat cerita dengan keadaan sepeda motor yang jauh dari keadaan prima aku lanjutkan perjalanan ke barat mengambil kitab suci...eh maksudnya pulang. Dan ternyata petualangan malam itu nggak berakhir begitu saja. Belum begitu jauh aku berjalan,aku sudah bermasalah dengan pak police karena kesalahan yang agak disengaja. He..3X Walaupun akhirnya semua terselesaikan dengan cara lama. beres... namun tetap menggerutu karena aku keluar money juga.
Perjalanan menyusuri malam berlanjut. Dan lagi-lagi, baru beberapa kilometer aku lewati, BUZZZZ...ZZT!!! Kempos lagiii...! Tobaatt...! Sudah jam 8 malam aku belum beranjak jauh dari kota JogJa malah sekarang ban bocor lagi. Sesuai dugaan ikatan ban nggak bisa lama sehingga ban dalam keluar dan langsung bergesekan dengan aspal.
Tanpa pikir panjang aku langsung dorong sepeda motor ke arah pulang berharap di depan ada tukang tambal ban yang masih buka. Alhamdulillah ternyata nggak jauh dari lokasi ban gembos sudah ada tukang tambal ban yang masih buka dan masih mengerjakan sepeda motor lain. Kali ini tukang tambal ban yang sistem operasinya seperti tukang tambal ban lainnya yang sifatnya menetap dan menunggu. Tapi di sini aku lihat banyak ban bekas tergantung di bengkelnya. Cukup membuatku tenang karena dengan ini berarti aku bisa mengganti ban luarku yang sudah tak layak pakai dan bisa pulang dengan lancar. Tapi aku jadi nggak kurang yakin lagi setelah melihat isi dompetku yang terus terang saja tinggal Rp.30.000,- (tapi jangan bilang siapa-siapa ya..).
Setelah sang tukang ban memeriksa kondisi ban belakang sepeda motorku, dia menegaskan kalau ban belakang motorku harus diganti luar dalam dan menawarkan ban luar dalam bekas layak pakai yang kebetulan ukurannya pas untuk motor sport seharga Rp.90.000,-. Ya, memang sih sudah seharusnya aku mengganti ban itu dari dulu karena emang sudah tak layak pakai lama sebelum akhirnya meledak dan menyisakan sobekan lebar. 90 ribu rupiah memang jauh dari lebih murah dari ban baru, tapi kalau lagi nggak bawa uang ya jadinya pastilah mahal. Mana nggak ada ATM di sekitar sana lagi. Aku terus berpikir bagaimana cara mendapatkan ban pengganti dengan isi dompet hanya 30 ribu rupiah lebih sedikit. Bisakah aku tawar hingga 30rb? Atau adakah ban bekas luar+dalam yang harganya 30rb tapi bisa dipakai? Atau sepeda motor aku titipkan dan aku pulang pakai bus? Atau bolehkah aku ngutang dulu? ha..ha..ha... orang belum kenal sudah mau ngutang. pede banget ya..? Tapi mau bagaimana lagi? Putar otak, cari solusi dari pada tidur di jalanan.
Setelah bincang-bincang Aku coba mengatakan keadaan keuanganku yang sesungguhnya kepada bapak tukang ban itu. Dia bilang, ya ini resiko buatku. Yang jelas ban harus diganti agar bisa sampai rumah. Trus aku tanya, "Apakah ada ban yang harganya cuma 30ribu-an atau yang ukurannya lebih kecil juga nggak apa-apa?"
"Kalau dipasang ban ukuran kecil ya nggak pas mas..! Kalau ban buat motor bebek ada banyak tapi nggak imbang sama bobot motornya"
Terus dengan sangat hati-hati agar tak salah paham aku coba bilang, "Pak, gimana kalau saya hari ini bayar 30 ribu dulu, sisanya besok saja. Lagi pula besok saya lewat sini lagi?"
"Ya, trus jaminan mas apa...? Kalau cuma KTP saya nggak mau, itu di rumah sudah ada sepuluhan KTP menumpuk begitu saja dan orangnya nggak pernah balik." jawab Bapak tukang ban.
Akhirnya, setelah negosiasi disepakati bahwa aku boleh membayar 30 ribu dahulu dan sisanya 50ribu bisa dibayar besoknya dengan jaminan helmku. Sebagai solusi agar aku nggak bermasalah di jalan, sang Bapak tukang tambal ban itu akan meminjamkan helmnya yang tentunya harganya jauh lebih murah dari pada helmku. Lho... tadi harganya 90ribu kok jadi 80rb? Soalnya pas negosiasi aku juga menawar harga ban tersebut.
Dan akupun pulang dengan kondisi ban yang lebih baik, aman dan perasaan yang lebih tenang. Sukses dan lancar sampai rumah.
Alhamdulillah...
Dari cerita realita panjang dan muter-muter pengalaman pribadi ini aku mencoba mengambil hikmah dan pelajaran. Pelajaran berharga tentang kehidupan, sosial, ekonomi masyarakat. Bagaimana para wiraswastawan pinggiran jalan beradaptasi dengan lingkungan, memanfaatkan situasi, mengambil terobosan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan usahanya.
Pelajaran yang bisa aku dapatkan dari kedua orang tukang tambal ban yang aku temui adalah:
* Dari Tukang ban keliling:
- cara kerja jemput bola
- bekerja dengan cara efektif dan efisien
- bermodalkan sepeda motor dan peralatan tambal ban sederhana
- area kerja tak terbatas dengan jangkauan lebih luas
- terkendala cuaca
- keterbatasan bahan yang bisa dibawa
- jam kerja semau sendiri
- bisa mangkal di mana saja seperti tukang ojek
* Dari tukang tambal ban menetap:
- menunggu bola datang
- buka 24 jam untuk mendapatkan penghasilan yang optimal dikarenakan datangnya pengguna jasa tidak pasti
- tidak terkendala cuaca
- peralatan dan bahan terlihat lebih lengkap
- bisa melayani jual beli ban bekas ataupun baru
- pembeli bisa ngutang dulu karena jelas alamatnya.
*)Tulisan ini aku buat sebagai catatan pengalaman pribadiku sendiri, Untuk dijadikan sebagai pelajaran bagi diri sendiri dan semoga bermanfaat bagi yang baca. thanks.
Petualang jalanan, belajar dari sepanjang jalan.

No comments:
Post a Comment